About Me

My photo
It's real me...Nothing else to be question marked, Me just simple as you tought. "Everything is possible if there is love and patience"

Tuesday, September 27, 2011

Monsterwolf (2011) BluRay 1080p 6CH x264

Monsterwolf (2011)
Info: http://www.imdb.com/title/tt1535608/
Release Date: 2010
Genre: Fantasy | Horror
Stars: Monica Acosta, Nicole Barré, Amber Bartlett
Quality: BluRay 1080p
Encoder: GHD@Ganool
Source: 1080p Bluray x264 MELiTE
Release Info: NFO
Subtitle: Indonesia, English
Sinopsis:
Creature of ancient legend manifests, bound to protect the ecologicalbalance of the land and killing anyone that threatens it.


Total Size 1.30 GB (.mkv)
Password = teufel
Download From Tinypaste

Jerry Cotton (2010) BluRay 720p 550MB

Jerry Cotton (2010)
Info: http://www.imdb.com/title/tt1080019/
Release Date: 11 March 2010
Genre: Comedy | Crime
Stars: Christian Tramitz, Christian Ulmen and Mónica Cruz
Quality: BluRay 720p
Encoder: SayFull@Ganool
Source: BluRay.1080p.x264.DTS-MySilu
Release Info: NFO
Subtitle: Indonesia, English (N/A)
Sinopsis:

A big city, big cars, and big crime demand a big sound. And there’s no bigger sound than the Peter Thomas Sound Orchestra. When the German producers of FBI Man Jerry Cotton needed to give their American hero his musical identity, there was only one guy for the job. Peter Thomas. He’s always had a special way with a tune and he was a huge fan of American jazz. Music is a big part of what makes the Jerry Cotton rollercoaster such a giddy, fun-filled ride. It’s wild. It’s crazy. It zigs. It zags. It’s all over the map and at times over the top – like the hustle and bustle of New York City life, or better: a European’s impression of the American way. Thomas re-configured American jazz the way the filmmakers reconfigured New York City, mixing it up with sounds that appropriately call to mind the military, the lounge, the chase and even the circus.

Total Size 550 MB (.mkv)
Password=ganool.com
Download From Tinypaste

Friday, June 10, 2011

Cinta Kasih yang Hilang


Damai semakin terancam
resah gelisah datang
keamanan teruji bagi setiap mahluk didunia

curiga selalu hadir
rasa nyaman tak lagi terasa
kepanikan disekitar semakin mencekam

rusuh, ricuh orang, pertempuran, bencana
baku tembak, kematian, mutilasi, korupsi
itukah yang harus kita hadapi

haruskah kita hidup dalam suasana seperti ini
haruskah kita hidup saling curiga dengan yang lain
haruskah kita sendiri menjalani hidup
sebagai salah satu jalan untuk selalu aman

kemanakah cinta kasih
dimanakah rasa saling percaya

tanggung jawab dan janji
seakan hanya terucap dalam kata saja
akankah perbedaan semakin curam terlihat

mungkinkah kita bergandengan tangan kembali
bersatu menjadi satu benteng yang kokoh
dengan perbedaan yang buat itu menjadi warna

ego, ambisi, angkuh, rakus
bodoh, posisi, kekayaan, prestis
itukah yang kita cari saat ini

kemanakah cinta kasih sesama
dimanakah rasa saling memberi dan menerima

haruskah kita buat perbedaan itu semakin tajam
antara si kaya dan si miskin
si bodoh dan si pintar
si tampan dan si buruk rupa

haruskah ada yang tersingkir
bagi yang tak mampu bertahan

kurindukan benteng yang pernah ada kala itu
kokoh perkasa menahan gempuran dari luar
tanpa ada perbedaan terlihat antar kita

dan haruskah dua kisah kasih manusia saling mencinta berbeda terpisah
hanya karena keyakinan mereka berbeda
meski Tuhan satu

adakah budaya, agama, Tuhan kita berbeda
adakah kita berasal dari ciptaan yang berbeda
hingga kita tunjukkan rasa ego kita
merasa tak ada yang mampu menyaingi kasih cinta kita kepada-Nya

tak ada satu ajaran pun membuat kita terpuruk
dan tak ada yang cacat satupun dalam ajaran-Nya
ajaran itu menuntun kita kembali ke kerajaan-Nya

ingatlah cinta kasih yang Tuhan berikan
cintailah sesama seperti kita mencintai-Nya
terima lah Dia sebagai penyelamatmu
dari segala dosa dan rasa angkuh kita

buanglah rasa angkuh, ego, rakus juga kebodohanmu
terimalah sesama sebagai satu keluarga
berasal hanya dari satu pencipta

agar damai tercipta
nyaman hadir kembali
tanpa ada curiga satupun antar sesama

dengarkan dalam hati mu bahwa Dia selalu menuntunmu
berjalanlah dengan kehendak-Nya
niscaya bukan hanya surga
kebahagiaan duniawi kan kau dapat
bahkan gerbang menuju kerajaan-Nya telah terbuka
bukan untuk ku tapi untuk dirimu

@MaHendraUnited (written on 2008)

Thursday, June 9, 2011

Sang Pengais Serpihan



telusuri jalan setapak
langkah demi langkah
tuk mencapai tujuan ku

tajamnya kerikil
dan perihnya serpihan kaca
ku lalui tanpa pelindung di alaskan

duri tajam sang rerumputan
dan licinya tanah
membuat ku terjatuh dan terbangun

ku tegarkan diri ini
bergegas mencapai tujuan ku

mengais serpihan yang terbuang
benahi jalan setapak
agar tak seorang pun ikuti langkahku

indah terlihat saat ku tolehkan ke punggung ku
namun tujuanku belum juga tercapai

satu demi satu ku kais serpihan
meski penampung itu berada di sekitarnya
namun serpihan itu selalu tetap ada

ku kais satu demi satu
dengan tajamnya kerikil
dan perihnya serpihan kaca

duri tajam sang rerumputan
dan licinya tanah
membuat ku terjatuh dan terbangun

namun hanya hina dan cacian yang ku dapat
tanpa seorang pun terima ku di hidupnya

ku hanya pengais serpihan terbuang
ku benahi jalan setapak ku lewati
tanpa terpikir akan benahi diriku sendiri

hingga ku sampai pada tujuanku
sebuah penampung serpihan
ku timbang serpihan itu dalam karung

demi sesuap nasi ku jalani ini semua
demi kelangsungan hidup ku di dunia
ku harap tak seorang pun
ikuti langkah ku ini

hari demi hari ku lalui jalan yang sama
namun serpihan itu selalu tetap ada
berharap sekitar ku sadar
agar tak datang lagi bencana di kemudian hari

@Mahendra written on Friendster blog 2008

Perasaan ini



jauh terasa diriku juga dirimu saat ini,
ingin rasa tanganku genggam tanganmu erat
ingin diri ini merangakul juga memelukmu selalu
ingin pula bibir ini mencium keningmu

rasa rindu, kangen, khawatir, gundah, cemburu,
risau, gelisah bercampur menjadi satu..
galau diri ini memikirkanmu…

adakah cara selain kata rindu
untuk ungkapkan rasa kangen
adakah kata selain sayang
untuk tunjukan diri ini hanya untukmu
adakah cara tuk ungkapkan
bahwa cinta juga hubungan ini hanya kau dan aku

engkau tahu bahwa diriku lelah
tuk temukan cinta dalam hidupku
engkau pun tau takkan ada cinta yg lain
selain dirimu

hanya satu pintaku
yakinlah dirimu hanya untukku
begitu juga aku padamu

kau juga aku tau kan ada rintangan menghadang
genggam dan raihlah tangan ini
yakinkan kita lewati bersama
baik suka juga duka

tetaplah bersamaku selalu cinta
kau juga aku tak ingin cinta ini hilang
hilang ditelan masa
jadikan cinta kita abadi selamanya
hanya kau dan aku

yours,
@MaHendra wrtitten on 2008

Wednesday, June 8, 2011

Cinta


Cinta...
Buat semua orang terbuai
Buat semua orang terlena
Dan buat semua orang tak sadarkan diri

Cinta...
Selalu hadir bagi siapa saja
Tidak kepada ku saja, tapi semua
Semua pun dapat merasakan nya

Dan saatnya ku bertanya
Tentang semua ini
Tentang sebuah kata cinta
Yang selalu hadir di jiwa ku ini

Dapatkah ada jawab itu?
Apa cinta selalu datang kala ku merindu?
Dan selalu pergi saat ku lupakan itu

Cinta...
Dengan cinta datang kedamaian dunia
Dengan cinta ku jalani hidup dengan nya
Dengan cinta pula ku hiasi hari penuh warna

Kasihku
Dengan cinta mu
Kau hembuskan nafas cinta
Yang t'lah lama sirna

Janjikan sebuah makna tuk selamanya
Ingin ku kau suarakan sang jujur
Adakah engkau cintai Aku sepenuh hati?

@mahendraunited (written on 14 August 2003)

Monday, June 6, 2011

3 Pintu Kebijaksanaan

Seorang Raja, mempunyai anak tunggal yang pemberani, trampil dan pintar. Untuk menyempurnakan pengetahuannya, ia mengirimnya kepada seorang pertapa bijaksana. “Berikanlah pencerahan padaku tentang Jalan Hidupku” Sang Pangeran meminta. “Kata-kataku akan memudar laksana jejak kakimu di atas pasir”, ujar Pertapa. “Saya akan berikan petunjuk padamu, di Jalan Hidupmu engkau akan menemui 3 pintu.

Bacalah kata-kata yang tertulis di setiap pintu dan ikuti kata hatimu. Sekarang pergilah sang Pertapa menghilang dan Pangeran melanjutkan perjalanannya. Segera ia menemukan sebuah pintu besar yang di atasnya tertulis kata “UBAHLAH DUNIA”

“Ini memang yang kuinginkan” pikir sang Pangeran. “Karena di dunia ini ada hal-hal yang aku sukai dan ada pula hal-hal yang tak kusukai. Aku akan mengubahnya agar sesuai keinginanku”

Maka mulailah ia memulai pertarungannya yang pertama, yaitu mengubah dunia. Ambisi, cita-cita dan kekuatannya membantunya dalam usaha menaklukkan dunia agar sesuai hasratnya. Ia mendapatkan banyak kesenangan dalam usahanya tetapi hatinya tidak merasa damai. Walau sebagian berhasil diubahnya tetapi sebagian lainnya menentangnya.

Tahun demi tahun berlalu. Suatu hari, ia bertemu sang Pertapa kembali. “Apa yang engkau pelajari dari Jalanmu ?” Tanya sang Pertapa “Aku belajar bagaimana membedakan apa yang dapat kulakukan dengan kekuatanku dan apa yang di luar kemampuanku, apa yang tergantung padaku dan apa yang tidak tergantung padaku” jawab Pangeran “Bagus! Gunakan kekuatanmu sesuai kemampuanmu. Lupakan apa yang diluar kekuatanmu, apa yang engkau tak sanggup mengubahnya” dan sang Pertapa menghilang.

Tak lama kemudian, sang Pangeran tiba di Pintu kedua yang bertuliskan “UBAHLAH SESAMAMU” “Ini memang keinginanku” pikirnya. “Orang-orang di sekitarku adalah sumber kesenangan, kebahagiaan, tetapi mereka juga yang mendatangkan derita, kepahitan dan frustrasi” Dan kemudian ia mencoba mengubah semua orang yang tak disukainya. Ia mencoba mengubah karakter mereka dan menghilangkan kelemahan mereka. Ini menjadi pertarungannya yang kedua.

Tahun-tahun berlalu, kembali ia bertemu sang Pertapa. “Apa yang engkau pelajari kali ini?” “Saya belajar, bahwa mereka bukanlah sumber dari kegembiraan atau kedukaanku, keberhasilan atau kegagalanku. Mereka hanya memberikan kesempatan agar hal-hal tersebut dapat muncul. Sebenarnya di dalam dirikulah segala hal tersebut berakar”

“Engkau benar” Kata sang Pertapa. “Apa yang mereka bangkitkan dari dirimu, sebenarnya mereka mengenalkan engkau pada dirimu sendiri. Bersyukurlah pada mereka yang telah membuatmu senang & bahagia dan bersyukur pula pada mereka yang menyebabkan derita dan frustrasi. Karena melalui mereka lah, Kehidupan mengajarkanmu apa yang perlu engkau kuasai dan jalan apa yang harus kau tempuh”

Kembali sang Pertapa menghilang. Kini Pangeran sampai ke pintu ketiga “UBAHLAH DIRIMU”
“Jika memang diriku sendiri lah sumber dari segala problemku, memang disanalah aku harus mengubahnya”. Ia berkata pada dirinya sendiri. Dan ia memulai pertarungannya yang ketiga. Ia mencoba mengubah karakternya sendiri, melawan ketidak sempurnaannya, menghilangkan kelemahannya, mengubah segala hal yang tak ia sukai dari dirinya, yang tak sesuai dengan gambaran ideal.

Setelah beberapa tahun berusaha, dimana sebagian ia berhasil dan sebagian lagi gagal dan ada hambatan, Pangeran bertemu sang Pertapa kembali.
“Kini apa yang engkau pelajari ?”
“Aku belajar bahwa ada hal-hal di dalam diriku yang bisa ditingkatkan dan ada yang tidak bisa saya ubah”
“Itu bagus” ujar sang pertapa. “Ya” lanjut Pangeran, “tapi saya mulai lelah untuk bertarung melawan dunia, melawan setiap orang dan melawan diri sendiri. Tidakkah ada akhir dari semua ini ? Kapan saya bisa tenang ? Saya ingin berhenti bertarung, ingin menyerah, ingin meninggalkan semua ini !”

“Itu adalah pelajaranmu berikutnya” ujar Pertapa. Tapi sebelum itu, balikkan punggungmu dan lihatlah Jalan yang telah engkau tempuh”. Dan ia pun menghilang. Ketika melihat ke belakang, ia memandang Pintu Ketiga dari kejauhan dan melihat adanya tulisan di bagian belakangnya yang berbunyi “TERIMALAH DIRIMU”.

Pangeran terkejut karena tidak melihat tulisan ini ketika melalui pintu tersebut.
“Ketika seorang mulai bertarung, maka ia mulai menjadi buta” katanya pada dirinya sendiri. Ia juga melihat, bertebaran di atas tanah, semua yang ia campakkan, kekurangannya, bayangannya, ketakutannya. Ia mulai menyadari bagaimana mengenali mereka, menerimanya dan mencintainya apa adanya. Ia belajar mencintai dirinya sendiri dan tidak lagi membandingkan dirinya dengan orang lain, tanpa mengadili, tanpa mencerca dirinya sendiri.

Ia bertemu sang Pertapa, dan berkata “Aku belajar, bahwa membenci dan menolak sebagian dari diriku sendiri sama saja dengan mengutuk untuk tidak pernah berdamai dengan diri sendiri. Aku belajar untuk menerima diriku seutuhnya, secara total dan tanpa syarat.”

“Bagus, itu adalah Pintu Pertama Kebijaksanaan” , ujar Pertapa. “Sekarang engkau boleh kembali ke Pintu Kedua” Segera ia mencapai Pintu Kedua, yang tertulis di sisi belakangnya “TERIMALAH SESAMAMU”

Ia bisa melihat orang-orang di sekitarnya, mereka yang ia suka dan cintai, serta mereka yang ia benci. Mereka yang mendukungnya, juga mereka yang melawannya. Tetapi yang mengherankannya, ia tidak lagi bisa melihat ketidaksempurnaan mereka, kekurangan mereka. Apa yang sebelumnya membuat ia malu dan berusaha mengubahnya.

Ia bertemu sang Pertapa kembali, “Aku belajar” ujarnya “Bahwa dengan berdamai dengan diriku, aku tak punya sesuatupun untuk dipersalahkan pada orang lain, tak sesuatupun yg perlu ditakutkan dari merela. Aku belajar untuk menerima dan mencintai mereka, apa adanya.

“Itu adalah Pintu Kedua Kebijaksanaan” ujar sang Pertapa,
“Sekarang pergilah ke Pintu Pertama”
Dan di belakang Pintu Pertama, ia melihat tulisan “TERIMALAH DUNIA” “Sungguh aneh” ujarnya pada dirinya sendiri “Mengapa saya tidak melihatnya sebelumnya”. Ia melihat sekitarnya dan mengenali dunia yang sebelumnya berusaha ia taklukan dan ia ubah.

Sekarang ia terpesona dengan betapa cerah dan indahnya dunia. Dengan kesempurnaannya. Tetapi, ini adalah dunia yang sama, apakah memang dunia yang berubah atau cara pandangnya?

Kembali ia bertemu dengan sang Pertapa : “Apa yang engkau pelajari sekarang ?”
“Aku belajar bahwa dunia sebenarnya adalah cermin dari jiwaku. Bahwa Jiwaku tidak melihat dunia melainkan melihat dirinya sendiri di dalam dunia. Ketika jiwaku senang, maka dunia pun menjadi tempat yang menyenangkan. Ketika jiwaku muram, maka dunia pun kelihatannya muram.

Dunia sendiri tidaklah menyenangkan atau muram. Ia ADA, itu saja.
Bukanlah dunia yang membuatku terganggu, melainkan ide yang aku lihat mengenainya. Aku belajar untuk menerimanya tanpa menghakimi, menerima seutuhnya, tanpa syarat.

“Itu Pintu Ketiga Kebijaksanaan” ujar sang Pertapa. “Sekarang engkau berdamai dengan dirimu, sesamamu dan dunia” Sang pertapa pun menghilang. Sang pangeran merasakan aliran yang menyejukkan dari kedamaian, ketentraman, yang berlimpah merasuki dirinya. Ia merasa hening dan damai.